previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Slider
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Ditulis pada tanggal 23 August 2018, oleh smpbss, pada kategori Berita

MALANG – Selama satu minggu, sebanyak 7 siswa SD Brawijaya Smart School (BSS) akan mengikuti kegiatan student exchange ke Jepang. Program yang dicanangkan sejak satu tahun lalu ini akhirnya bisa terealisasikan, bahkan diawali oleh kedatangan 15 pelajar dari Jepang ke BSS, beberapa waktu lalu.
Sebanyak 7 peserta dari SD dan 8 lainnya dari SMP BSS akan berangkat, Rabu (29/8) menuju Haraichi Elementary School. Namun untuk pembelajaran sepenuhnya hanya akan dilaksanakan selama dua hari dengan maksud antara peserta didik BSS dengan pelajar Jepang bertukar pikiran mengenai bagaimana sistem pembelajaran di negeri sakura ini.
“Tujuan utama dari pertukaran pelajar ini adalah untuk memberikan wawasan internasional kepada siswa didiknya. Mengajak mereka mengetahui bahwa di dunia ini ada negara lain salah satunya Jepang,” ujar Kepala SD BSS Malang, Hari Budi Setiawan, M.Pdi.
Selain memberikan wawasan internasional, di dalam student exchange ini juga tersirat visi selanjutnya yakni menerapkan rasa nasionalisme kepada peserta didik. Terlebih, Jepang merupakan negara yang memiliki rasa nasionalis tinggi sehingga cocok menjadi tujuan dari pertukaran pelajar bagi siswa BSS.

Rasa nasionalisme yang ingin disampaikan yakni meskipun mereka sedang berada di negara lain namun harus bangga terhadap negeri sendiri serta menyayanginya sekalipun negara yang dituju memiliki kemegahan dan kecanggihan teknologi. Apabila sudah diterapkan tidak menutup kemungkinan siswa akan memiliki rasa bangga kepada tanah kelahirannya dan selalu tertanam di hati masing-masing.
“Student exchange ini mencanangkan tiga program religius, nasionalis, dan wawasan internasional. Sementara untuk meningkatkan religius ini SD BSS memiliki wacana untuk menggandeng negara Turki demi terwadahinya ketiga program tersebut,” beber Wawan, sapaan akrabnya.
Sebelum pemberangkatan student exchange ke Jepang, 15 siswa tersebut telah menerima bimbingan selama kurang lebih satu bulan atau hampir 20 kali pertemuan. Di dalam pelatihan tersebut yang banyak disampaikan yakni mengenai bahasa dan budaya Jepang. Terutama dalam hal ketepatan waktu yang menjadi ciri khas negara ini.
“Kami sampaikan bagaimana siswa harus disiplin, tepat waktu, bagaimana cara makan dan mandinya, musim, dan lain sebagainya sehingga siswa tidak kaget dengan kondisi Jepang ketika sudah sampai di sana karena mereka juga akan tinggal di rumah masyarakat Jepang,” pungkasnya. (lin/oci)

Malang Post – Kamis, 23 Agustus 2018

Facebook Comments

Back to top